Pages - Menu

Senin, 17 Januari 2011

Banjir di Australia (dampak pemanasan global???)




Banjir bandang besar terjadi kembali. meski bukan di Indonesia (alhamdulillah). bencana ini menarik banyak perhatian dunia internasional.

ini sebagai bukti bahwa GLOBAL WARMING BUKAN HANYA OMONG KOSONG!!!! GLOBAL WARMING BENAR-BENAR TERJADI dan KITA HARUS MENGHENTIKANNYA.....!!!!

Banjir yang baru-baru ini terjadi di Queensland, Australia, merupakan banjir terparah di negara itu, setidaknya dalam tiga dekade terakhir. Para ilmuwan mengutarakan bahwa banjir ini sangat mungkin memiliki keterkaitan dampak dengan perubahan iklim akibat pemanasan global.

Meski demikian, masih terlalu dini pula untuk menarik kesimpulan bahwa banjir tsunami disebabkan badai La Nina dengan pola yang lebih intens daripada biasanya.

Seperti disampaikan Kepala Divisi Monitor dan Prediksi Iklim dari Australia Bureau of Meteorology di Melbourne David Jones, "Pertama-tama, dapat kita katakan La Nina dan El Nino terjadi di Bumi yang makin panas. Polanya akan berbeda dengan pola biasa."

Jones mengatakan, dengan adanya perubahan iklim, diduga fenomena La Nina menjadi berbeda. "La Nina bisa jadi faktor penyebab banjir yang lebih parah karena hujan pun lebih buruk," katanya kepada Reuters.

La Nina sendiri dalam bahasa latin La Nina berarti "gadis cilik". La Nina merupakan suatu kondisi dimana terjadi penurunan suhu muka laut di kawasan Timur equator di Lautan Pasifik, La Nina tidak dapat dilihat secara fisik, periodenya pun tidak tetap.

Dalam setahun belakangan temperatur di permukaan laut juga mencapai rekor paling hangat untuk kawasan Australia dan kelembaban udara termasuk yang tertinggi untuk kawasan Australia bagian timur.

Adapun ahli iklim terkenal Amerika, Kevin Trenberth, menegaskan, benar beberapa fenomena La Nina dan El Nino teraktual, terutama di Asia, menunjukkan gejala-gejala berbeda. Hal ini disebabkan faktor perubahan iklim secara global. Namun, untuk menyepakati apakah pola baru ini akan memperburuk keadaan, ilmuwan masih berdebat.

Banjir rusak kota-kota

Guyuran hujan lebat yang berujung banjir merendam sekitar 30.000 rumah di Queensland sejak bulan lalu. Ibu kota Queensland, Brisbane, lumpuh total. Sampai saat ini tercatat 19 korban tewas serta ribuan orang mengungsi.

Kota berpenduduk 2 juta jiwa tersebut menjadi kota terakhir yang tergenang banjir di area Queensland. Sebelumnya, hujan deras mengubah tiga perempat wilayah Queensland menjadi zona bencana dengan skala dua kali lebih besar daripada ukuran Negara Bagian Texas di Amerika Serikat atau gabungan luas negara Perancis dan Jerman.

Puluhan ribu rumah juga tidak mendapat suplai listrik. Lebih dari 50 kawasan di pinggir kota dan jalan-jalan terendam setelah Sungai Brisbane meluap. Tanggul sungai jebol sejak Selasa (11/1/2011) karena tidak mampu menahan luapan banjir. Elevasi atau ketinggian air di sungai tersebut disinyalir akan terus bertambah setelah kemarin mencapai 5 meter.

Untuk sementara kantor berita Reuters melaporkan perkiraan kerugian akibat banjir sebesar 5 miliar dollar AS. Wartawan BBC di Brisbane, Phil Mercer, melaporkan, kota itu kini harus melakukan perbaikan infrastruktur besar-besaran. Bahkan sebagian korban banjir kemungkinan besar tidak bisa kembali ke tempat tinggal mereka.

Banjir juga memengaruhi industri batu bara, baik di Australia maupun pasar internasional, karena banyak tambang batu bara di Queensland terkena genangan air. Harga batu bara dilaporkan mengalami lonjakan tak lama setelah terjadi banjir.


Banjir mirip Tsunami

Banjir bandang Australia dikatakan mirip tsunami karena membentuk dinding air setinggi dua meter. Dalam waktu sejak, air sungai sudah setinggi delapan meter.

Negara Bagian Queensland merupakan daerah yang terserang parah. Sebuah kota di sebelah barat Brisbane, Toowomba, menjadi daerah yang paling banyak menelan korban. Delapan dari 12 korban tercatat dari kota tersebut. Mereka terseret banjir yang bak gelombang tsunami tersebut.

“Laporan awal mengindikasikan, apa yang menimpa Toowomba lebih tepat disebut tsunami yang menerjang daratan. Dinding air besar menghadang dan terus turun ke Lembah Lockyear,” ujar Komisaris Polisi Bob Atkinson.

Rekaman televisi menunjukkan, air banjir yang berwarna coklat menerjang tengah kota tersebut bersama puing-puing. Warga berpegangan ke telepon umum dan sebagian naik ke atap. Air sungai mencapai ketinggian delapan meter hanya dalam waktu satu jam, membuat warga dan aparat luar biasa terkejut.

Seorang pengendara motor panik dan langsung memanjat ke atas mobil. Sementara air menghancurkan bangunan, menghanyutkan kendaraan dan pohon dengan mudahnya. Polisi memperingatkan warga yang tinggal di daerah pinggiran agar segera menyelamatkan diri ke dataran tinggi.

Sky TV melaporkan, sebagian warga dievakuasi dari Brisbane. Namun polisi menyatakan pada Reuters, hanya warga di pinggiran kota yang dievakuasi. “Tempat ini terlihat seperti dijatuhi bom atom,” papar Walikota Lockyear, Steve Jones. Lockyear juga salah satu kota yang terkena dampak parah.

MAKIN MELUAS

Banjir yang melanda Negara Bagian Queensland, Australia timur laut, makin menjadi-jadi setelah permukaan air sungai terus naik, sedikitnya 13 kota terendam. Warga kota-kota itu dievakuasi, jalur rel kereta api dan jalan raya terputus, dan aktivitas pertambangan terganggu.

Semua warga kota Condamine, sebanyak 130 orang, dievakuasi menggunakan helikopter, Kamis (30/12), setelah kota tersebut perlahan tetapi pasti terendam air.

Neil Roberts, Menteri Pelayanan Darurat Negara Bagian Queensland, mengatakan, Condamine adalah satu dari 13 kota yang penduduknya harus dievakuasi pada hari Kamis karena ketinggian air terus naik. Menurut dia, total penduduk yang telah dievakuasi mencapai 2.000 jiwa.

Di Bundaberg, Queensland tenggara, sekitar 120 rumah penduduk tenggelam akibat luapan Sungai Burnett yang membelah kota itu. Wakil Wali Kota Bundaberg Tony Ricciardi mengatakan, sebanyak 400 orang dievakuasi sepanjang malam sejak hari Rabu.

Semua warga kota Theodore, sebanyak 300 orang, juga telah dievakuasi oleh tentara Australia, Rabu.

Salah satu kota yang terparah terkena banjir adalah Emerald, yang berpenduduk 15.000 jiwa. Sungai Fitzroy, yang mengalir melalui kota itu, meluap dan diramalkan akan mencapai puncaknya pada ketinggian 16,3 meter, Jumat siang ini, dan menenggelamkan lebih dari 80 persen wilayah kota. Di stasiun pengamatan Biro Meteorologi Australia (www.bom.gov.au) di kawasan Riverslea, ketinggian air Fitzroy bahkan sudah mencapai 23,53 meter di atas jembatan di lokasi tersebut.

Jeff Perkins, peneliti di Biro Meteorologi Australia, memperkirakan, aliran air Fitzroy akan menyebabkan banjir terburuk dalam 50 tahun terakhir di kota Rockhampton, yang terletak di bagian hilir dekat pantai. ”Banjir akan sangat besar di sana minggu depan, dengan ketinggian air bisa mencapai 9,4 meter, sama dengan banjir tahun 1954,” tutur Perkins.

Baru pertama kali terjadi

Perdana Menteri Negara Bagian Queensland Anna Bligh mengatakan, bencana banjir saat ini belum pernah terjadi dalam sejarah. ”Skala (bencana) dan jumlah orang yang terdampak belum pernah sebesar ini sebelumnya. Banjir terjadi di banyak tempat secara bersamaan,” tutur Bligh, yang sudah mengucurkan dana tanggap darurat bencana sebesar 1 juta dollar Australia (Rp 9,1 miliar).

Bligh juga mengatakan, banjir kemungkinan belum akan surut hingga 10 hari mendatang, dan operasi pemulihan dan pembersihan bisa butuh waktu berminggu-minggu setelah itu. ”Saat air surut, baru kita akan tahu seberapa besar masalah dan kerugian yang kita hadapi,” tutur Bligh, yang memperkirakan kerugian mencapai miliaran dollar Australia.

Pertambangan-pertambangan raksasa dunia, seperti Rio Tinto, BHP Billiton, dan Anglo American, mengumumkan keadaan darurat dan produksi pertambangan batu bara mereka di wilayah Queensland terganggu banjir. Lahan perkebunan tebu dan kapas yang sangat luas juga tenggelam oleh banjir.


Maureen Clancy, pejabat Wali Kota Banana Shire, mengingatkan bahaya penyakit dari air yang terkontaminasi bangkai binatang dan nyamuk yang berkembang biak pesat di genangan air.

Tony Ham, Manajer Program Pengendalian Hiu Queensland, memperingatkan bahaya hanyutnya hiu-hiu lembu (Carcharhinus leucas) dan buaya liar yang ganas, dari habitat mereka di sungai-sungai besar, ke kolam-kolam renang dan resor-resor selancar.

Banjir besar di Australia ini disebabkan oleh badai tropis Tasha yang terjadi pekan lalu. Badai tersebut menyebabkan hujan deras sepekan terakhir, dengan curah hujan mencapai 1,3 meter.(sumber: KOMPAS/AFP/AP/CNN/BBC/DHF)