Pages - Menu

Sabtu, 29 Mei 2010

JALUR KERETA API PASIRIAN-LUMAJANG (mengangkat masalah lama)

Lumajang......... kota yang indah... dulu, lumajang pernah punya jalur kereta api loh..!!! Jalur kereta api di Kabupaten Lumajang cukup kompleks. Dari Stasiun Lumajang yang terletak di ibukota kabupaten, ke arah utara menuju Surabaya melalui Setasiun Klakah. Sedangkan di selatan Stasiun Lumajang terdapat percabangan jalur kereta api ke arah barat menuju Pasirian (kaki Gunung Semeru), dan ke arah timur menuju Rambipuji (Jember) lewat Yosowilangun (jalur selatan).

Di Stasiun Klakah sendiri memiliki percabangan jalur kereta api ke arah barat menuju Surabaya, ke arah timur menuju Jember lewat Jatiroto (jalur utara), ke arah selatan menuju kota Lumajang.

Sumber. http://www.semboyan35.com/showthread.php?tid=2644

Jalur mati kereta api sendiri adalah jalur St. Klakah - St. Lumajang - St. Pasirian dan St. Lumajang - St. Rambipuji (Jember). Sebagian jalur telah menjadi jalan raya, sebagian lagi menjadi restoran, rumah dll. ini petannya Menurut informasi yang kami dapatkan, bahwa kereta ini cuma beroperasi 4 kali yaitu waktu pagi (jam berangkat kerja) 2 kali (1x PP) dan sore 2 kali(1x PP). kalo dilihat dari bentuknya, kereta ini mieip kereta uap. namun, kereta yang melewati jalur rel yang dibuat belanda ini ternyata sudah bermesin diesel. karena transportasi kendaraan bermotor masih jarang, maka kereta api atau bila orang-orang sering menyebut sepur menjadi salah satu transportasi yang penting selain dokar, dll.

lokomotif yang digunakan adalah lok D30179 dipo Jember, dengan cadangan C1223 dan C1233 dipo Klakah. Sampai tahun 1987 kereta ini masih jalan ini adalah gambar yang kami dapat dari mbah google Sumber: hamparanpasirsemeru.blogspot.com
Foto ini diambil di kali pancing... bekas jembatannya juga masih ada kok yaitu disebelah utara dari jembatan yang baru Sumber: hamparanpasirsemeru.blogspot.com
Nah kalo yang ini adalah rel di dekat sungai mujur tepatnya ada di bagian barat jembatan yang baru (buat kendaraan bermotor)... masih bagus ya... tapi sayang... sekarang tinggal fondasinya aja.. relnya udah ga ada..
Andai ada usaha pemerintah untuk mengaktifkan kembali jalur ini..

lagi pula, jalur kereta ini banyak manfaatnya juga,... selain untuk angkutan penumpang dan barang.. rel ini juga bisa buat ngangkut pasir yang selama ini banyak ngerusakin jalan dan jembatan di sepanjang jalur lumajang. coba.. kalo di itung-itung, biaya perbaikan jalan mungkin lebih besar ketimbang membuat rel ini......

Namun.. pembuatan rel ini mungkin juga menimbulkan masalah. yaitu bekas rel yang sudah ditinggali warga,, kami tidak tahu apakah tanah bekas rel tersebut masih milik PT.KAI atau sidah milik warga setempat... kalo harus bikin rute baru, malah tambah biaya besar kaya'nya... lagi pula... dulu rel itu dibuat pake perhitungan kan.??? sao... mungkin jalur yang lama itulah yang terbaik

ini ada tambahan gambar lagi mudah-mudahan bisa berguna


Ini adalah jalur percabangan lumajang-jember-pasirian




Yah.. mungkin cuma itu yang bisa kami informasikan semoga Allah swt memberikan apa yang terbaik untuk Lumajang

ok last... ada udang dibalik batu.................udah dulu..........


Sumber foto (5 terbawah) : http://www.semboyan35.com/
dan dari berbagai sumber

Sabtu, 22 Mei 2010

Tari Gelipang..?? tahukah anda..??

Bila kita mendengar kata gelipang, tak akan terlepas dari sebuah kabupaten di wilayah Jawa Timur yaitu kabupaten Lumajang. Memang gelipang merupakan potensi budaya kabupaten Lumajang yang sekarang seolah-olah terlindas oleh kebudayaan luar dan kemajuan jaman. Bagi yang seusia muda barangkali ada yang tidak tahu apa itu tarian gelipang. Bila kita tengok kebelakang mungkin masih terasa dalam ingatan kita dimana pada masa itu gelipang merupakan tontonan yang sangat digemari dari anak-anak sampai orang tua. Kesenian gelipang adalah suatu bentuk tarian tradisional yang menggambarkan sosok seorang kesatria dengan membawa senjata lengkap berjalan dengan tegapnya serta melakukan gerakan seolah-olah seperti tentara yang lagi latihan perang.




Atraksi gelipang dimulai dengan persiapan barisan yang diselingi bunyi letusan senapan yang berasal dari petasan atau mercon. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan teks SK Bupati/Kepolisian oleh komandan pasukan tentang penetapan gelipang sebagai salah satu hasil warisan budaya leluhur yang diiringi dengan kepalan tangan yang diangkat keatas oleh para pasukan. Para pasukan biasanya terdiri dari 5 s/d 7 orang dengan memakai topi laksana pasukan polisi, baju dan celana diberi asesoris berupa tanda pangkat dan dasi, memanggul senapan di pundak serta tak lupa pula bagi penabuh gamelan maupun para pasukan gelipang untuk memakai kaca mata hitam.



Tarian gelipang diringi oleh instrumen musik diantaranya jidur/bedug, terbang dan sepasang gendang. ”sekarang biar lebih menarik ditambah dengan bedug Inggris alias drum”, ungkap yanto salah satu penabuh yang dalam kesehariannya berprofesi sebagai penarik amal masjid dengan becak itu.

Diantara grup gelipang yang sampai saat ini masih eksis walaupun jarang manggung akan tetapi mereka tetap latihan yaitu terbang gelipang yang dipimpin oleh pak Sirri yang bertempat tinggal di desa Karangsari Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang. Pak Sirri kira-kira berumur 60 tahun namun masih tetap semangat melatih anak-anak untuk menari gelipang dengan ditemani istri tercinta yang kebetulan juga beliau menjadi penabuh jidur/bedug.



’Saya pernah disuruh melatih gelipang yang dijadikan tarian kolosal di suatu sekolah menengah di Lumajang, ternyata anak-anak banyak yang menyukai”,ujar lelaki yang setiap harinya bekerja sebagai tukang bersih-bersih di masjid. Kita patut berbangga kepada beliau dengan keterbatasan ekonomi (sampai tulisan ini dibuat pak Sirri masih tinggal menumpang beserta istri di salah satu ruangan masjid), namun beliau masih telaten dan sabar menjaga dan melestarikan potensi budaya asli Lumajang ini.

Glipang di kabupaten Probolinggo
sumber: http://www.probolinggokab.go.id
Tari Kiprah Glipang ini menggambarkan betapa gagah dan terampilnya para pemuda yang sedang berlatih olah keprajuritan. Perkumpulan Tari Kiprah Glipang yang terkenal berada di Desa Pendil – Banyuanyar hingga banyak orang berkeyakinan bahwa desa inilah tempat asal muasalnya kesenian ini.
Desa Pendil telah mempopulerkan kesenian ini sampai ke tempat-tempat lain diluar Probolinggo.




Dikutip dari hamparanpasirsemeru.blogspot.com
dengan beberapa suntingan

Upacara pernikahan model Sogugan... what its..??



Perkawinan dengan upacara model Sogugan masih kita jumpai didaerah yang kental suku madura (mis Kab.Pasuruan, Probolinggo, Lumajang dll). Tradis sogugan terkait dengan aktifitas sumbang menyumbang dimana sumbangan ini nilainya dapat melebihi dari hal biasanya (Becek,bowo :jawa) misalnya kalau biasanya orang menyumbang Rp.25.000 s/d Rp.50.000.- disogugan nilainya diatas Rp.100.000,- atau seharga seekor sapi pada waktu itu.
Tradisi yang dilestarikan ialah upacara penyambutan memberi sumbangan secara rinci sebagai berikut : penyumbang biasanya membawa uang (nilai cukup besar) dan membawa “jodhang” (peti kayu berbentuk panjang, berisi makanan dan biasaya dipikul oleh dua orang). Penyogug (penyumbang) ini disambut
Pemilik rumah di pintu depan terop, dengan iringan gamelan kenong telo’ dan seorang pesinden yang suaranya amat merdu.

Penyumbang dan pemilik rumah biasanya diwakili acam (juru bicara), di depan terop tersebut berdialog singkat, yang intinya bahwa pihak penyumbang dengan ikhlas tulus memberi sumbangan demi kelestarian hubungan persaudaran/kekeluargaan. Dialog macam tersebut dilanjutkan dengan upacara serah terima sumbangan,sambil menari yang diwakili kedua cacam, iringan musik/gamelan kenong telo’ yang dimaksudkan misalnya gendhing walang kekek, pelok temor, gendhing gantung, dan gendhing jula-juli jawa timuran. Penghitungan uang di tempat yang telah ditetapkan, disaksikan oleh para tamu dan undangan yang lain. Uang sumbangan disimpan di bokor dan dijaga secara khusus. Kadangkala uang sumbangan itu dirangkai pada sebilah bambu, semakin besar sumbangan yang diberikan, semakin tinggi status sosial penyumbang di masyarakatnya

Dikutip dari hamparanpasirsemeru.blogspot.com
dengan beberapa suntingan

Tari kuda kencak (khas LUMAJANG loh...)

Suara terompet membahana kesetiap penjuru bumi siang itu diiringi dengan musik gamelan. Tak sekian lama muncullah sepasang kuda yang dihiasi kain warna-warni serta tak ketinggalan pernak-pernik sehingga menimbulkan suara gemrincing begitu kaki kuda mulai melangkah. Setelah sampai di tempat hajatan biasanya kuda langsung berjalan berputar-putar sambil berdiri bergantian menghadap ke segala arah, sontak penonton terkejut sekaligus bertepuk tangan sehingga suasana menjadi begitu meriah. Itulah
sekedar gambaran hajatan kuda kencak yang khususnya di kabupaten Lumajang sangat terkenal.
Biasanya kuda kencak itu dipertontonkan bila ada orang punya hajatan mengkhitan anaknya. Dimana sang anak akan dinaikkan kuda kencak bersama-sama saudara saudaranya. Lebih dari 2 ekor biasanya orang akan menyewa kuda kencak, terkadang sampai 10 ekor, tergantung kemampuan finansial serta anak yang akan dinaikkan kuda kencak. Dan sekarang orang-orang mulai bisa menyiasati agar “enteng di kantong” yaitu dengan cara urunan antara si tuan rumah dan orang tua yang anaknya yang akan dinaikkan kuda sesuai dengan kesepakatan mereka.
Terkadang orang disamping mendatangkan jaran kencak juga mendatangkan grup Reog Ponorogo serta Gelipang (mengenai reog dan gelipang akan diposting dilain tempat). Di kabupaten Lumajang banyak terdapat beberapa grup jaran kencak diantaranya grup sambung tresno, baru muncul, baru timbul dll yang kesemuanya itu tersebar di beberapa kecamatan terutama di daerah mayoritas suku madura.



Atraksi kuda kencak
Rombongan datang ke tempat hajatan kira-kira pukul 10.00. Lalu salah satu kuda diajak ketempat terop/tenda untuk menyapa orang hajat, sementara kuda yang lainnya dihias dengan pernak-pernik dan beberapa asesoris yaitu berupa manik-manik, bulu burung merak, serta kain penutup dan pelana kuda yang dihiasi dengan beragam warna mencolok.



Setelah kuda dihias ganti anak yang akan naik kuda yang sering disebut kemanten itu diberi make up dan pakaian warna warni, begitu juga penuntun kuda ikut berdandan. Setelah itu semua selesai, barulah dimulai atraksi kuda kencak yang diawali dengan dua kuda saling berhadapan dan saling menari mengikuti irama gamelan, kemudian diselingi dengan tarian remo dan tradisi sumpingan yaitu pemberian uang dari beberapa tamu juga saudara dan kerabat si punya hajat sebagai penghormatan kepada tuan rumah yang diletakkan di sebuah baki atau talam dimana uang tersebut nantinya diambil oleh si penari remo. Setelah pertunjukan tarian remo usai baru kemudian kuda masuk ke dapur tuan rumah untuk minta minum kopi baru kemudian dilanjutkan dengan acara ”temangan” dimana terdapat satu/dua kuda dan penuntunnya yang menyanyikan lagu dan pantun berbahasa madura dan terkadang diselingi dengan lawakan khas jaran kencak.



Gaya menari yang unik
Diantara gaya atraksi kuda kencak yang membuat pengunjung kuda kencak sampai tertawa terpingkal-pingkal adalah cara menari penuntun kudanya yaitu dengan mempermainkan kopiah hitam digerakkan ke kiri-kanan serta depan-belakang dengan menggeleng-gelengkan / mengangguk-anggukkan kepala mereka namun kopiah yang dipakai tidak sampai jatuh walaupun tidak diikat dengan tali atau apa saja, pernah penonton tidak percaya meminta untuk membuka kopiahnya mungkin diikat di rambutnya ternyata setelah dilepas kopiah di kepalanya tidak ada seutas talipun di situ. Ketika pertunjukan telah usai baru kemudian kuda kencak diarak keliling kampung mengunjungi kerabat dekat si punya hajat dan para perangkat desa yang biasanya setelah tiba di tempat yang dikunjungi anak-anak yang naik kuda diturunkan dan diberi uang saku sementara sang kuda melakukan atraksi di rumah itu juga, tak lupa pula terkadang para penari diberi konsumsi dan rokok serta uang saku oleh orang yang dikunjungi. Setelah semua rumah yang ditetapkan usai dikunjungi rombongan jaran kencak kembali ke terop untuk melanjutkan atraksinya, terkadang saking banyaknya rumah yang disinggahi (sampai 20 rumah) mereka kembali ke terop sampai malam. Ada tradisi yang berkaitan dengan kuda kencak yang mungkin perlu penelitian ilmiah yaitu orang membeli air liur kuda kencak yang diyakini bisa menyembuhkan penyakit step bila diusapkan di keningnya entah itu kebetulan atau tidak wallahu a’lam. Biasanya atraksi kuda kencak berakhir sekitar jam 12.00 malam.

Desa siluman... desa yang tak seseram namannya

Apa sih reaksi orang-orang ketika mendengar kata "siluman"..?? pasti pikirannya adalah makhluk setengah manusia setengah jin yang serem dan memetikan... nah.. tahukah anda ada suatu desa di kabupaten Lumajang yang bernama desa siluman....???

Teryata,,, definisi siluman tidak selalu menyeramkan.... desa siluman ini adalah deesa yang amaaaaat indah...
Dusun ini termasuk dalam wilayah Desa Bades Kecamatan Pasirian berbatasan langsung dengan desa Gondoruso. Sering orang yang kebetulan melintas ke daerah ini yang kebetulan terlewati karena letaknya berada di jalan tembus Tempursari-Pasirian akan mengira bahwa tempat ini angker,

menurut informasi dari www.hamparanpasirsemeru.blogspot.com ada sedikit cerita nih... mengenai desa siluman ini.. yuk kita lihat..!!!!

sebetulnya tidak karena saya pernah mengalaminya sendiri dan pernah tinggal beberapa hari di rumah teman SMA ku, di sana keimanan masyarakatnya cukup kuat dan tidak pernah aku melihat sosok wajah yang menyeramkan dari penduduknya sehingga sesuai namanya disebut Siluman. Namun pernah juga aku mengalami peristiwa yang sedikit membuat bulu kuduk berdiri. Pada waktu itu aku bersama suami dan anakku pas liburan Hari Raya Idul Adha, aku rencananya pergi ke Tempursari untuk sholat ied di sana, terpaksa sebelum subuh aku sudah tiba di Pasirian, pada saat aku melewati jalan kuburan Siluman sepedaku tiba-tiba mati plesss….. seperti kehabisan bensin, sontak anakku dan aku menjerit, karena jalanan jadi gelap seiring padamnya lampu di sepedaku, secara spontan dan reflek aku membaca apa yang bisa kubaca dalam kitab suci, seketika itu sepeda menyala lagi.

Pernah juga seorang warga mengalami peristiwa di jalan kuburan siluman, dimana dia bertemu pocong di tengah jalan, kemudian dia meminta pertolongan ke warga untuk menggotong pocong itu, setelah dia kembali dari rumah warga, dilihatnya pocong tadi sudah tidak ada ditempatnya, selang berapa lama warga tersebut diangkat jadi PNS

Itulah kisah yang mungkin tidak ada kaitannya dengan nama Siluman, tapi yang pasti kita punya nama daerah yang cukup unik dan perlu kita telusuri mengapa dinamakan dengan Siluman.

Dikutip dari hamparanpasirsemeru.blogspot.com
dengan beberapa suntingan