Pages - Menu

Kamis, 15 Desember 2011

makna Logo HARJALU



Logo Jaran Kencak atau Kuda Kencak yang dijadikan logo atau maskot pada Harjalu ke 756 diharapkan akan menjadi kebanggaan masyarakat Lumajang, karena pada galibnya dengan logo Jaran Kencak tersebut Kabupaten Lumajang akan mengenalkan kepada masyarakat Lumajang dan masyarakat dari luar Lumajang bahwa kesenian Jaran Kencak merupakan potensi karya seni budaya yang paling menonjol diantara kesenian lain yang berkembang di Kabupaten Lumajang semisal Godril, Dhangglung, Glipang, Topeng Kaliwungu. Dari beberapa kesenian yang ada tersebut Jaran Kencak mempunyai keistimewaan karena kesenian Jaran Kencak tumbuh dan berkembang hampir merata di seluruh Kabupaten Lumajang. Jaran Kencak merupakan salah satu karya seni yang hampir dimiliki oleh semua masyarakat seni Lumajang di semua kecamatan. Oleh karenanya pada Hari Jadi Lumajang (HARJALU) ke 756 digunakan sebagai momentum untuk semakin mengenalkan kesenian Jaran Kencak, karena pada kegiatan Harjalu kali ini dimungkinkan akan dihadiri oleh banyak orang. Jadi sangatlah tepat apabila Logo Jaran Kencak dipergunakan sebagai media untuk mengenalkan potensi Jaran Kencak dan menjadi sebuah simbol pengakuan bahwa Jaran Kencak adalah milik Lumajang. (h-ris) Lumajang.go.id]

Jadwal HARJALU 756

nah.... Akhirnya ketemu juga info ini.......
from FACEBOOK - Visit LUMAJANG

RANGKAIAN ACARA PERINGATAN HARJALU KE- 756 TAHUN 2011

1. Lomba Bola Voli Bupati Cup II

Hari : SABTU

Tanggal : 29 Oktober s/d 10 Desember 2011

Pukul : 20.00 WIB

Tempat : Lapangan Bola Voli Stadion Semeru

2. Lomba Lampion Harjalu Ke- 756 Tingkat Kecamatan

Hari : KAMIS s/d Selesai

Tanggal : 1 Desember s/d 15 Desember 2011

Pukul : --

Tempat : Jalan Protokol Kecamatan

3. Senam Dan Jalan Sehat

Hari : JUMAT

Tanggal : 9 Desember 2011

Pukul : 06.00 WIB s/d Selesai

Tempat : Alun –Alun Lumajang

4. Gerak Jalan Tradisional Candipuro – Lumajang ( CANDIL )

Hari : SABTU

Tanggal : 10 Desember 2011

Pukul : 16.00 s/d Selesai

Tempat : Start ( Lapangan Desa Candipuro ) – Transit Lapangan Desa

Lempeni ) – Finish Jalan Alun – Alun Utara Lumajang

Keterangan : Jarak ± 27 KM

5. Sepeda Santai

Hari : MINGGU

Tanggal : 11 Desember 2011

Pukul : 06.00 WIB s/d Selesai

Tempat : Start dan finish, Jalan Alun-Alun Utara Lumajang

6. Lumajang On The Street and Stage Carnival (LOSS Carnaval)

Hari : RABU

Tanggal : 14 Desember 2011

Pukul : 18.00 WIB s/d Selesai

Tempat : Start Jalan Alun-Alun Utara – Finish Jalan Ahmad Yani

(Stadion Semeru Lumajang)

7. Prosesi Harjalu

Hari : KAMIS

Tanggal : 15 Desember 2011

Pukul : 09.00 WIB

Tempat : Alun-alun Lumajang

Keterangan : Start dari Pendopo Lumajang menuju Alun-alun Lumajang

8. Kirab Budaya

Hari : KAMIS

Tanggal : 15 Desember 2011

Pukul : 11.00 WIB (setelah Acara Prosesi Harjalu)

Tempat : Start Jalan Alun-alun Utara – Finish Jalan Ahmad Yani (Timur

Stadion Semeru Lumajang)

9. Campursari

Hari : KAMIS

Tanggal : 15 Desember 2011

Pukul : 16.00 s/d 19.00 WIB

Tempat : Jalan Alun-alun Utara Lumajang

10. Pesta Kembang Api Rakyat

Hari : KAMIS

Tanggal : 15 Desember 2011

Pukul : 20.00 s/d 21.00 WIB

Tempat : Alun-alun Lumajang, Kecamatan Yosowilangun, Klakah dan

Pasirian

Keterangan : Diawali dengan menyaksikan Penampilan Pemenang LOSS

Carnival pada pukul 19.00 s/d 20.00 WIB bertempat di jalan

Alun-Alun Utara Lumajang.

11. Pagelaran Band

Hari : KAMIS

Tanggal : 15 Desember 2011

Pukul : 21.00 WIB s/d Selesai (setelah Pesta Kembang Api)

Tempat : Alun-Alun Lumajang

12. Festival Pedalangan Se-Kabupaten Lumajang

Hari : JUMAT s/d MINGGU

Tanggal : 16 Desember s/d 18 Desember 2011

Pukul : 19.00 WIB s/d Selesai

Tempat : Pelataran Sebelah Barat Stadion Semeru Lumajang

13. Pesta Kembang Api Rakyat

Hari : JUMAT

Tanggal : 16 Desember 2011

Pukul : 20.00 WIB s/d Selesai

Tempat : Stadion Kecamatan Klakah

14. Pesta Kembang Api Rakyat

Hari : SABTU

Tanggal : 17 Desember 2011

Pukul : 20.00 WIB s/d Selesai

Tempat : Stadion Kecamatan Pasirian

15. Road Race

Pukul : MINGGU

Tanggal : 18 Desember 2011

Pukul : 09.00 WIB s/d Selesai

Tempat : Jalan Embong Kembar Lumajang


Eitz .... ternyata ada juga Lomba jingle HARJALU 756......

Lomba Jinggle HARJALU (Hari Jadi Lumajang) ke 756

Tahun 2011

Dalam rangka memberi arti yang lebih mendalam pada HARJALU ke 756 Tahun 2011, Panitia menyelenggarakan “Lomba Pembuatan Jinggle “ HARJALU.

Adapun persyaratan Lomba :

  1. Boleh diikuti oleh Siswa dan Umum. Peserta Lomba tidak dipungut biaya atau Gratis.
  2. Thema Jinggle : HARJALU.
  3. Durasi Jinggle maksimal 30 detik.
  4. Menggunakan Bahasa Indonesia.
  5. Jenis Musik Bebas.
  6. Menumbuhkan semangat atau Gelora menggaungkan Seni dan Budaya Daerah Lumajang.
  7. Hasil Karya dalam bentuk CD dengan format MP3.
  8. Hasil Karya Pemenang menjadi Hak Panitia Harjalu.

Waktu / Tempat Penyerahan Hasil Karya :

  1. Waktu : Tanggal 1 s/d 10 Nopember 2011.
  2. Tempat : 1. Kantor Pariwisata di KWT.

2. Radio Suara Lumajang ( Kawasan GOR )

3. Radio Swara Semeru FM

( radio_semeru_FM@yahoo.com )

4. Radio Gloria FM

( gloriafm.radio@yahoo.com / dicky974@yahoo.co.id )

5. Radio Sentral FM

( odiendut@gmail.com )

Pengumuman Pemenang :

  1. Pemenang terbaik akan diumumkan pada Tanggal 11 Nopember 2011 melalui Radio Suara Lumajang, Radio Gloria Paramitha Sampurna, Radio Swara Semeru FM dan Radio Sentral FM.
  2. Pemenang terbaik akan memperoleh uang tunai sebesar Rp. 2.000.000 dan Piagam Penghargaan.

-- 000 --

Lomba Lampion HARJALU (Hari Jadi Lumajang) ke 756

Tahun 2011

Adapun Persyaratan Lomba :

  1. Peserta lomba adalah Rumah Tinggal, Toko-Toko disetiap Ibu Kota Kecamatan se Kabupaten Lumajang.
    1. Desain Lampion mencitrakan HARJALU 756
    2. Bahan Lampion sebisanya tahan air hujan.

Waktu Penilaian dan Hadiah :

  1. Penilaian akan dilakukan dewan juri Mulai 15 November s/d 15 Desember 2011 pada malam hari.
    1. Akan ditentukan pemenang terbaik dengan Hadiah Uang Tunai dan Piagam

-- 000 --

LOMBA GERAK JALAN TRADISIONAL

CANDIL (CANDIPURO - LUMAJANG)

Dengan jarak tempuh ± 27 km Lomba Gerak Jalan Tradisional ini akan dilaksanakan Sabtu, 10 Desember 2011 Pukul 16.00 wib sd selesai , sedangkan pengambilan no. dada dilaksanakan pk. 14.00 wib di Sekretariat Start depan Lap. Candipuro.

Adapun kreteria lomba adalah sbb :

- Beregu : Umum / Mahasiswa / Pelajar,Dengan jumlah 10 orang

- Perorangan : Usia minimal 45 tahun terhitung tanggal 31 Desember 2011.

Pendaftaran di buka mulai tanggal 1 Nopember s.d 5 Desember

Tempat Pendaftaran :

  1. Sekretariat Kantor Pemuda dan Olahraga
  2. Empat (4) Kecamatan yang ditunjuk yaitu : Candipuro, Pasirian, Tempeh, Sumbersuko.

Persyaratan Peserta :

- Biaya Pendaftaran Gratis

- Foto Copy KTP atau identitas diri yg sah (bagi Peserta Umum)

- Mengisi Blanko Surat Pernyataan dari Panitia

- Bagi Pelajar ( Surat Keterangan dari Sekolah)

- Memiliki nomor peserta yang telah divalidasi oleh Panitia baik peserta perseorangan maupun beregu.

- Mentaati tata tertib dan peraturan lomba.

Dengan kreteria penilaian meliputi kedisiplinan, ketertiban, kerapihan, kelengkapan anggota (regu) serta ketepatan waktu. Pengumuman pemenang tanggal 13 Desember dan Penyerahan Hadiah pada tanggal 15 Desember 2011.

Sedihh emang ga bisa liat langsung HARJALU 756..... Badai tugas kuliah yang tak kunjung usai...

mungkin tahun depan kami akan bisa menampilkan posting hasil liputan kami sendiri,,...

mohon maaf kalau liputan HARJALU ini copas dari teman....


Sumber gambar : singgahlumajang.blogspot.com

Kamis, 06 Oktober 2011

Pura Mandara Giri Semeru Agung

"Bangunannya khas seperti di Bali. Suasananya juga khas seperti di Bali. Bahkan lokasinya juga khas seperti di Bali. Namun, ini bukan Bali melainkan Senduro, Lumajang yang memiliki pura tertua di Nusantara dan dijadikan pusat keagamaan umat Hindu seluruh nusantara."

nah disini admin akan jelasin lagi nih tentang salah satu pariwisata di Lumajang pastinya. yaitu Pura mandara Giri. setuap tahun ratusan umat hindu bali datang kesini untuk mengadakan suatu upacara.. Pura Mandaragiri Semeru Agung merupakan pura tertua yang ada di Indonesia. Pada bulan-bulan tertentu sangat ramai dikunjungi oleh umat hindu seluruh Indonesia, terutama yang berasal dari Bali. Pura yang biasanya juga dijuluki Pura Kahyangan Jagat (tempat memuja Hyang Widhi Wasa) ini berada di Senduro yang bertopografi pegunungan dan udara yang sejuk. Maka jangan heran jika melewati Senduro Anda akan melihat beberapa orang berpakaian adat seperti di Bali yang akan masuk maupun keluar pura. Dan jika kita dapat melihat langsung, maka akan merasakan bahwa ini Bali tapi di Jawa karena suasananya yang khas masyarakat Bali akan terasa kental di sana.

Bangunan pura yang berada di sebelah kanan dari arah Lumajang dengan jalanan yang menanjak tampak unik dan berkarakter. Karena memang karakteristik bangunannya tak jauh beda dengan yang ada di Bali. Pada hari-hari tertentu berbagai hiasan khas umat hindu akan terlihat di sana. Untaian janur, patung bersarung, sesajen dan taburan bunga-bunga.

Bangunan pura bagian depan adalah gapura khas Bali. Masuk ke dalam lagi terdapat pos informasi yang sebelahnya terdapat lapangan hijau yang ukurannya cukup luas. Tampak pula dari lapangan itu bangunan pura yang bertekstur dengan tiga ujung unik seperti gunungan di pewayangan. Di baliknya merupakan tempat persembahyangan yang khusus untuk umat Hindu, selain yang ingin bersembahyang dilarang masuk. Kemudian masuk ke dalam lagi, sebelah persembahyangan, terdapat tempat peristirahatan sementara, di bawahnya terdapat aula besar seperti pendopo yang biasanya digunakan untuk acara-acara khusus dan pagelaran kesenian Jawa-Bali.

Sekarang, Anda tak usah jauh-jauh untuk pergi ke Bali melihat pura. Di Lumajang juga bisa, bahkan ini merupakan pura tertua. [ar]http://andikka.student.umm.ac.id

dikutip dari http://www.parisada.org/ Pura Mandara Giri Semeru Agung

Bermula dari Nuur Tirta

TIDAK mudah untuk dapat mewujudkan tegaknya pura di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Di lambung sebelah timur Gunung Semeru itu, nyaris 20 tahun penganut Hindu memendam kerinduan untuk dapat mendirikan bangunan suci berupa pura. Impian itu seperti begitu sulit diwujudkan. Izin pendirian tak mudah didapat dan dana pun tidak otomatis mudah digalang. Begitu lama warga penganut Hindu ini berpuas diri hanya dengan mabakti (sembahyang) di Sanggar Pamujon yang ada hampir di setiap desa di Kecamatan Senduro, Lumajang.

Keinginan pemeluk Hindu di Lumajang dan sekitarnya untuk membuat pura sesungguhnya telah muncul sejak tahun 1969. Keinginan ini tampak bersambut dengan keinginan sejumlah tokoh Hindu di Bali, terutama sejak diadakan nuur tirta (memohon air suci) dari Bali langsung ke Patirtaaan Watu Kelosot, di kaki Gunung Semeru, berkaitan dengan diaturkan upacara agung Karya Ekadasa Rudra di Pura Agung Besakih, di lambung Gunung Agung, Bali, Maret 1963. Kegiatan nuur tirta ke Watu Kelosot itu kembali dilakukan pada tahun 1979 berkaitan dengan digelarnya lagi upacara Ekadasa Rudra di Pura Agung Besakih. Pada akhir rangkaian Ekadasa Rudra tahun 1979 ini bahkan juga dilakukan upacara majauman ke Patirtaan Watu Kelosot.


Sejak itu dimulailah tradisi rutin nuur tirta saban kali di Besakih dan pura kahyangan jagat lain di Bali diaturkan upacara berskala besar. Kawasan Gunung Sumeru dengan mata air suci Watu Kelosot pun makin dikenal kalangan umat Hindu di Bali maupun di luar Bali. Sebelumnya manakala diaturkan upacara-upacara besar di tempat-tempat suci atau pura kahyangan jagat di Bali, para pandita atau sulinggih (pendeta) biasanya cukup hanya ngaskara ke Gunung Semeru, memohon ke hadapan Hyang Siwa Pasupati yang diyakini berstana di puncak Gunung Semeru. Seiring dengan kesadaran dan penghayatan umat Hindu terhadap ajaran agama, ditopang pula oleh kemajuan teknologi transportasi, nuur atau mendak tirta ke Gunung Semeru pun dilakukan langsung.

Toh, kendala teknis praktis kian dirasakan timbul dalam perjalanan waktu kemudian. Jarak tempuh Bali-Watu Kelosot yang bisa menghabiskan waktu 9-11 jam sekali tempuh, kerap mengharuskan umat Hindu bermalam di kawasan Lumajang. Andaikan sekadar menginap tentu tidak masalah, karena bisa bermalam di hotel mana saja. Rasa hati kurang sreg, kurang mantap, muncul manakala menginap sambil ngiring tirta yang baru saja dimohon penuh rasa bakti di petirtaan Watu Kelosot. Terasa kurang etis, tidak anut, bila menginapkan air suci di hotel. Dari sini kian kuat kukuhlah dorongan keinginan mendirikan tempat suci di sekitar Gunung Semeru.

Tidak hanya masalah teknis praktis dan etis dijadikan pertimbangan. Pendirian pura di kawasan dataran tinggi ini juga didasari konsep yang ditopang sumber-sumber rujukan kuat susastra-agama maupun sumber-sumber sejarah kuno. Dalam pandangan Hindu, dataran tanah atau gunung tertinggi merupakan kawasan tersuci secara spiritual. Ini tentu sangat tepat dengan posisi Gunung Semeru sebagai gunung tertinggi di tanah Jawa, bahkan di Kepulauan Nusantara. Kawasan ini secara historis juga disebut-sebut sebagai kawasan suci semasa Jawa Kuno, sebagaimana dapat disusuri dari sumber susastra Nagarakertagama berbahasa Jawa Kuno.

Izin lokasi pendirian pura diajukan, tetapi ditolak Bupati Lumajang dengan alasan tempat sempit dan dekat pemukiman non-Hindu. Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) setempat sempat menawarkan lokasi di Desa Kertasari, namun ditolak umat, karena merupakan daerah aliran lahar Gunung Semeru. Sampai akhirnya lokasi berdirinya pura sekarang ini dipilih, dengan luas awal cuma 25 x 60 meter, belakangan ditambah lagi menjadi 25 x 65 meter, seharga Rp 4,5 juta. Izin diajukan kembali, tiga tahun kemudian baru turun dari aparat berwenang.

Panitia Senduro-Bali

Pura dibangun bertahap. Setelah batu bata terbeli, padmasana mulai dibangun, menghadap ke timur. Tetapi tidak bisa dituntaskan. Dipindah agak ke utara (masih menghadap ke timur), tidak bisa diselesaikan juga. Ada pawisik (petunjuk gaib) agar dihadapkan ke selatan. Sejak itu pembangunan lancar dan punia (sumbangan) mengalir dari umat di Bali maupun di luar Bali.

Pendirian pura bertambah lancar setelah rombongan dari Bali, antara lain Jero Gede Alitan Batur, Tjok Gede Agung Suyasa, Mangku Sueca dari Besakih, tahun 1989 saat nuur tirta (memohon air suci) ke Semeru bertemu umat Hindu asli kawasan Semeru. Rombongan dari Bali ini pun bergabung dengan tim pembangunan pura setempat. Panitia gabungan Sendoro-Bali dibentuk terpadu. Rencana pun kian mengembang seiring dengan mengalirnya punia dari para bakta, umat penderma. Guna menjaga ketertiban dan pertanggungjawaban pengorganisasian, Parisada Kabupaten Lumajang lantas menunjuk sejumlah bakta (umat yang bersedia tulus berkorban) sebagai Panitia Penggalian Dana dan Pembangunan Pura Semeru, lewat Surat Penunjukan nomor 94/PHDI-LMJ/IV/1991.

Ketika awal diserahi tugas membangunan fisik pura, panitia cuma disodori dana Rp 40 juta. Dari penggalian dana sukarela kemudian terkumpul Rp 90 juta. Hingga kini total sudah dihabiskan dana sekitar Rp 1,8 milyar untuk pembangunan fisik pura dan sekitarnya. Arealnya pun meluas hingga kini hampir 2 hektar.

Kini bangunan fisik Pura Mandara Giri Semeru Agung sudah dilengkapi dengan candi bentar (apit surang) di jaba sisi, dan candi kurung (gelungkuri) di jaba tengah. Di areal ini dibangun bale patok, bale gong, gedong simpen, dan bale kulkul. Ada juga pendopo, suci sebagai dapur khusus dan bale patandingan. Di jeroan, areal utama, ada pangapit lawang, bale ongkara, bale pasanekan, bale gajah, bale agung, bale paselang, anglurah, tajuk, dan padmanabha sebagai bangunan suci utama dan sentral.

Di lokasi agak menurun, di sisi timur, dibangun pasraman sulinggih, bale simpen peralatan dan dua bale pagibungan selain dapur. Sedangkan di sisi selatan berdiri wantilan megah dan luas. Panitia juga menyiapkan pembangunan kantor Sekretariat Parisada, perpustakaan dan gerbang utama waringin lawang.

Hari Minggu Umanis, Wuku Menail, tanggal 8 Maret 1992, dipimpin delapan pendeta, digelarlah untuk pertama kalinya upacara Pamlaspas Alit dan Mapulang Dasar Sarwa Sekar. Dengan begitu status dan fungsi bangunan pun berubah menjadi tempat suci, pura. Selanjutnya pada bulan Juni - Juli 1992 diaturkan upacara besar berupa Pamungkah Agung, Ngenteg Linggih, dan Pujawali.

Lewat Surat Keputusan Nomor: 07/Kep/V/PHDI/1992, dengan memperhatikan hasil pertemuan pihak-pihak instansi, badan dan majelis yang terkait, di Wantilan Mandapa Kesari Warmadewa, Besakih, tanggal 11 Mei 1992, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat lantas menetapkan nama, status dan pengelola pura. Ditetapkan antara lain: nama pura adalah Pura Mandara Giri Semeru Agung dengan status Pura Kahyangan Jagat, tempat memuja Hyang Widhi Wasa. Sebagai panyungsung adalah seluruh umat Hindu di Indonesia.

Kini kehadiran pura malah dirasakan memberi rezeki bagi penduduk setempat. Warung-warung makanan hingga kios penjual kaos berlogo Semeru Agung dan beragam cenderamata lain pun berkembang. Begitu juga penduduk di sekitar pura mulai menyediakan kamar-kamar untuk menginap bagi umat Hindu yang datang bersembahyang ke pura. Bahkan, penginapan juga dibangun di sana oleh penduduk setempat. Saban hari memang ada saja umat yang bersembahyang ke Semeru Agung. Lebih-lebih lagi bila hari-hari suci seperti Purnama, Tilem, Galungan, Kuningan dan sejenisnya.

Kehadiran pura ini, nyatanya tidak sebatas hanya mengangkat nama Senduro, Lumajang dan sekitarnya menjadi tambah tenar di kalangan penganut Hindu di seluruh Indonesia. Lebih dari sekadar tenar, kehadiran Pura Mandara Giri Semeru Agung begitu nyata juga mampu memutar roda perekonomian masyarakat di sekitarnya. Di sini vibrasi atau getaran kesucian religius dan spiritualitas betapa nyata membuahkan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitarnya, sekaligus menciptakan kerukunan antarsesama manusia. (*)

Memuja Hyang Siwa Pasupati

PEMILIHAN lokasi pura di lambung Gunung Sumeru tidaklah sembarangan. Ada konsep kuat melatarinya, dan ini sangat terkait dengan sumber-sumber susastra-agama yang ada. Antara lain disuratkan, ketika tanah Jawa masih menggang-menggung, belum stabil, Batara Guru menitahkan para Dewa memenggal puncak Gunung Mahameru dari tanah Bharatawarsa (India) ke Jawa. Titah itu dilakonkan para Dewa. Puncak Gunung Mahameru dipenggal, diterbangkan ke tanah Jawa. Jatuh di sisi barat, tanah Jawa berguncang. Bagian timur berjungkat, sedangkan bagian barat justru tenggelam.

Potongan puncak Gunung Mahameru itu pun digotong lagi ke rah timur. Sepanjang perjalanan dari barat ke bagian timur tanah Jawa, bagian-bagian puncak Gunung Mahameru itu ada yang rempak. Bagian-bagian yang rempak itu kelak tumbuh menjadi enam gunung kecil masing-masing Gunung Katong (Gunung Lawu, 3.265 m di atas permukaan laut), Gunung Wilis (2.169 m), Gunung Kampud (Gunung Kelud, 1.713 m), Gunung Kawi (2.631 m), Gunung Arjuna (3.339 m), Gunung Kemukus (3.156 m).

Adapun puncak Mahameru itu kemudian menjadi Gunung Sumeru (3.876 m). Inilah puncak tertinggi Pegunungan Tengger sekarang -- bahkan menjadi gunung tertinggi seantero Indonesia -- yang membentuk poros dengan Gunung Bromo atau Gunung Brahma. Sejak itu tanah Jawa menjadi stabil, tak lagi goyang, menggang-menggung. Di lambung Gunung Semeru itulah sejak tahun 1992 resmi berdiri megah Pura Mandara Giri Semeru Agung.

Tentu saja panteon pemindahan Gunung Mahameru di tanah Hindu menjadi Gunung Semeru -- begitu nama otentik yang tersuratkan, namun orang-orang kini terbiasa menyebut Semeru -- di tanah Jawa (Nusantara) itu disuratkan jauh sebelum Pura Mandara Giri Semeru Agung dibangun. Kisah tua itu tersurat benderang dalam kitab Tantupanggelaran berbahasa Jawa Tengahan, digubah dalam bentuk prosa. Apa yang menarik dari kisah pemindahan gunung itu? Panteon itu jelas menunjukkan persebaran Hindu paham Siwaistis dari tanah India ke negeri Nusantara yang berpusat di tanah Jawa. Dalam pandangan Hindu Siwaistis yang berpengaruh besar di Nusantara, termasuk Bali hingga kini, Dewa tertinggi adalah Siwa. Dewa Siwa bersemayam di gunung tertinggi. Itu berarti di puncak Gunung Mahameru (Himalaya) dalam alam India, atau puncak Gunung Sumeru dalam alam Nusantara. Teks-teks Purana India yang tergolong kitab Upaweda (penjelasan lebih lanjut atas Weda) memang menyuratkan Tuhan Yang Mahatunggal bersemayam di puncak Mahameru -- dikenal pula dengan nama Gunung Kailasa atau Gunung Himawan, yang bersalju abadi. Di puncak gunung yang dikenal juga sebagai pusat padma raya itu Siwa, yang juga dikenal sebagai Parwataraja Dewa, menurunkan ajaran-ajaran-Nya kepada sakti-Nya, Dewi Parwati, Dewi Gunung. Ajaran-ajaran itu biasanya disuratkan dalam bentuk tanya jawab antara Hyang Siwa dengan Dewi Parwati, kemudian dicatat dalam berbagai Yamala, Damara, Siwasutra, maupun kitab Tantra. Lebih lanjut, kitab-kitab yang menguraikan perihal ajaran yoga memberikan tuntunan sangat benderang bahwa bagi seorang sadhaka, dia yang teguh kukuh dan penuh disiplin menjadikan dirinya sebagai sarana dasar pelaksanaan yoga, puncak gunung itu ada di sahasrara padma, yakni di puncak ubun-ubun kepala manusia. Dengan begitu, puncak gunung tiada ubahnya dengan kepala manusia, tempat yang sangat penting sekaligus sangat patut dijaga kesuciannya.

Tambahan

sekalian nih promosi juga dari Oblong Lumajang untuk model Pura MANDARA GIRI


VISIT LUMAJANG ....!!!! jangan cuma lewat....

Pemandian Selokambang

Hahhh.... udah lama nggak posting akhirnya bisa posting juga biasa lah maba... Ok kali ini kita akan bahas salah satu tempat pariwisata lagi. pastinya di Lumajang tercinta Cekidot..!! Pemandian Selokambang adalah suatu kolam pemandian yang bersal dari mata Air.. jadi airnya tuh bukan dari PDAM. biasanya, tempat ini dijadikan tempat untuk olahraga renang dari beberapa sekolah. saya pun baru tahu tempat ini setelah ada kegiatan pelajaran Olahraga yang prakteknya di pemandian ini. pemandian ini terletak di Desa Purwosono Kecamatan Sumbersoko, jarak tempuh dari kota Lumajang 7 Km kearah Barat 15 menit perjalanan dapat ditempuh segala macam kendaraan. Nah.. katanya nih, air di pemandian selokambang ini dipercaya masyarakat dapat ,menyembuhkan penyakit rheumatik

Nah... Alhamdulillah kami dapat artikel yang bagus tentang legenda dari tempat pariwisata yang satu ini.. from (JA NOERTJAHYO, KOMPAS/KCM 17 November 2006)

Menurut legenda yang dipercaya masyarakat Lumajang, pada zaman dahulu daerah ini diperintah oleh Adipati Arya Wiraraja sebagai hadiah dari Kerajaan Majapahit karena jasa-jasanya. Sang Adipati mempunyai putra sebagai ahli warisnya yang dikenal dengan sebutan Empu Nambi. Dalam kekacauan yang terjadi kemudian, Empu Nambi dan keluarganya tewas. Salah seorang bawahannya, Demang Ploso, berhasil melarikan diri dengan meninggalkan begitu saja harta kekayaannya.

Seorang abdi kinasih (pembantu yang disayangi) Demang Ploso menyelamatkan sebagian harta yang ditingggalkan tersebut, yaitu berupa aneka ragam perhiasan berharga. Ia membawanya sambil mencari tempat Ki Demang sembunyi. Karena begitu banyak dan beratnya harta yang dibawa, si abdi itu ingin menyembunyikannya di suatu tempat agar perjalanannya mencari Ki Demang menjadi lebih mudah dan lincah. Ia kemudian menemukan satu batu sebesar kerbau di tepi danau dan ingin menyembunyikan harta tersebut di tempat itu. Namun, ternyata tidak mudah melakukannya karena batu tersebut sangat berat.

Lokasi batu itu dekat padepokan Empu Teposono yang dikenal sakti. Selanjutnya, atas permintaan abdi tersebut, Sang Empu kemudian membantu menyingkirkan batu. Setelah bersemedi sejenak, Empu Teposono dengan menyandang keris "aji pameleng" dan tongkat "gemiling" secara mudah menggeser batu tersebut masuk ke danau. Yang menarik, batu itu tidak tenggelam melainkan terapung di sana. Danau tersebut oleh masyarakat lalu diberi nama Selokambang (batu terapung), yang kemudian semakin membesar dan batunya hancur dimakan waktu. Selokambang tetap lestari menjadi nama danau itu sampai saat ini.

Biasanya suhu air di pemandian ini cukup dingin, mungkin karena air yang memang berasal dari sumber. jadi ada baiknya kalo kita puter-puter pemandian dulu sebelum "nyemplung", supaya kita tidak mengalami kram

Other Picture:


Oh ia ada yang unik di pemandian selokambang ini. yaitu bangkai pesawat yang saya identifikasi mungkin bangkai pesawat dari tipe Mig 15. entah mengapa pesawat ini diletakkan di sini. mungkin waktu itu orangnya binggung mau taruh dimana, so karena ada tempat disini. yaa diletakkanlah tuh pesawat
Pic
yaa mungkin itulah yang bisa kami berikan kepada para pembaca semua (ceilah)...
haha. udah dibilangkan Lumajang tuh nggak cuma ada Gunung Semeru.. banyak wisata-wisata keeerreen lainnya di kota ini
So... ga ada alasan untuk cuma numpang lewat di Lumajang

VISIT LUMAJANG...!!!!!
Wassalam...
^_^


Senin, 17 Januari 2011

Banjir di Australia (dampak pemanasan global???)




Banjir bandang besar terjadi kembali. meski bukan di Indonesia (alhamdulillah). bencana ini menarik banyak perhatian dunia internasional.

ini sebagai bukti bahwa GLOBAL WARMING BUKAN HANYA OMONG KOSONG!!!! GLOBAL WARMING BENAR-BENAR TERJADI dan KITA HARUS MENGHENTIKANNYA.....!!!!

Banjir yang baru-baru ini terjadi di Queensland, Australia, merupakan banjir terparah di negara itu, setidaknya dalam tiga dekade terakhir. Para ilmuwan mengutarakan bahwa banjir ini sangat mungkin memiliki keterkaitan dampak dengan perubahan iklim akibat pemanasan global.

Meski demikian, masih terlalu dini pula untuk menarik kesimpulan bahwa banjir tsunami disebabkan badai La Nina dengan pola yang lebih intens daripada biasanya.

Seperti disampaikan Kepala Divisi Monitor dan Prediksi Iklim dari Australia Bureau of Meteorology di Melbourne David Jones, "Pertama-tama, dapat kita katakan La Nina dan El Nino terjadi di Bumi yang makin panas. Polanya akan berbeda dengan pola biasa."

Jones mengatakan, dengan adanya perubahan iklim, diduga fenomena La Nina menjadi berbeda. "La Nina bisa jadi faktor penyebab banjir yang lebih parah karena hujan pun lebih buruk," katanya kepada Reuters.

La Nina sendiri dalam bahasa latin La Nina berarti "gadis cilik". La Nina merupakan suatu kondisi dimana terjadi penurunan suhu muka laut di kawasan Timur equator di Lautan Pasifik, La Nina tidak dapat dilihat secara fisik, periodenya pun tidak tetap.

Dalam setahun belakangan temperatur di permukaan laut juga mencapai rekor paling hangat untuk kawasan Australia dan kelembaban udara termasuk yang tertinggi untuk kawasan Australia bagian timur.

Adapun ahli iklim terkenal Amerika, Kevin Trenberth, menegaskan, benar beberapa fenomena La Nina dan El Nino teraktual, terutama di Asia, menunjukkan gejala-gejala berbeda. Hal ini disebabkan faktor perubahan iklim secara global. Namun, untuk menyepakati apakah pola baru ini akan memperburuk keadaan, ilmuwan masih berdebat.

Banjir rusak kota-kota

Guyuran hujan lebat yang berujung banjir merendam sekitar 30.000 rumah di Queensland sejak bulan lalu. Ibu kota Queensland, Brisbane, lumpuh total. Sampai saat ini tercatat 19 korban tewas serta ribuan orang mengungsi.

Kota berpenduduk 2 juta jiwa tersebut menjadi kota terakhir yang tergenang banjir di area Queensland. Sebelumnya, hujan deras mengubah tiga perempat wilayah Queensland menjadi zona bencana dengan skala dua kali lebih besar daripada ukuran Negara Bagian Texas di Amerika Serikat atau gabungan luas negara Perancis dan Jerman.

Puluhan ribu rumah juga tidak mendapat suplai listrik. Lebih dari 50 kawasan di pinggir kota dan jalan-jalan terendam setelah Sungai Brisbane meluap. Tanggul sungai jebol sejak Selasa (11/1/2011) karena tidak mampu menahan luapan banjir. Elevasi atau ketinggian air di sungai tersebut disinyalir akan terus bertambah setelah kemarin mencapai 5 meter.

Untuk sementara kantor berita Reuters melaporkan perkiraan kerugian akibat banjir sebesar 5 miliar dollar AS. Wartawan BBC di Brisbane, Phil Mercer, melaporkan, kota itu kini harus melakukan perbaikan infrastruktur besar-besaran. Bahkan sebagian korban banjir kemungkinan besar tidak bisa kembali ke tempat tinggal mereka.

Banjir juga memengaruhi industri batu bara, baik di Australia maupun pasar internasional, karena banyak tambang batu bara di Queensland terkena genangan air. Harga batu bara dilaporkan mengalami lonjakan tak lama setelah terjadi banjir.


Banjir mirip Tsunami

Banjir bandang Australia dikatakan mirip tsunami karena membentuk dinding air setinggi dua meter. Dalam waktu sejak, air sungai sudah setinggi delapan meter.

Negara Bagian Queensland merupakan daerah yang terserang parah. Sebuah kota di sebelah barat Brisbane, Toowomba, menjadi daerah yang paling banyak menelan korban. Delapan dari 12 korban tercatat dari kota tersebut. Mereka terseret banjir yang bak gelombang tsunami tersebut.

“Laporan awal mengindikasikan, apa yang menimpa Toowomba lebih tepat disebut tsunami yang menerjang daratan. Dinding air besar menghadang dan terus turun ke Lembah Lockyear,” ujar Komisaris Polisi Bob Atkinson.

Rekaman televisi menunjukkan, air banjir yang berwarna coklat menerjang tengah kota tersebut bersama puing-puing. Warga berpegangan ke telepon umum dan sebagian naik ke atap. Air sungai mencapai ketinggian delapan meter hanya dalam waktu satu jam, membuat warga dan aparat luar biasa terkejut.

Seorang pengendara motor panik dan langsung memanjat ke atas mobil. Sementara air menghancurkan bangunan, menghanyutkan kendaraan dan pohon dengan mudahnya. Polisi memperingatkan warga yang tinggal di daerah pinggiran agar segera menyelamatkan diri ke dataran tinggi.

Sky TV melaporkan, sebagian warga dievakuasi dari Brisbane. Namun polisi menyatakan pada Reuters, hanya warga di pinggiran kota yang dievakuasi. “Tempat ini terlihat seperti dijatuhi bom atom,” papar Walikota Lockyear, Steve Jones. Lockyear juga salah satu kota yang terkena dampak parah.

MAKIN MELUAS

Banjir yang melanda Negara Bagian Queensland, Australia timur laut, makin menjadi-jadi setelah permukaan air sungai terus naik, sedikitnya 13 kota terendam. Warga kota-kota itu dievakuasi, jalur rel kereta api dan jalan raya terputus, dan aktivitas pertambangan terganggu.

Semua warga kota Condamine, sebanyak 130 orang, dievakuasi menggunakan helikopter, Kamis (30/12), setelah kota tersebut perlahan tetapi pasti terendam air.

Neil Roberts, Menteri Pelayanan Darurat Negara Bagian Queensland, mengatakan, Condamine adalah satu dari 13 kota yang penduduknya harus dievakuasi pada hari Kamis karena ketinggian air terus naik. Menurut dia, total penduduk yang telah dievakuasi mencapai 2.000 jiwa.

Di Bundaberg, Queensland tenggara, sekitar 120 rumah penduduk tenggelam akibat luapan Sungai Burnett yang membelah kota itu. Wakil Wali Kota Bundaberg Tony Ricciardi mengatakan, sebanyak 400 orang dievakuasi sepanjang malam sejak hari Rabu.

Semua warga kota Theodore, sebanyak 300 orang, juga telah dievakuasi oleh tentara Australia, Rabu.

Salah satu kota yang terparah terkena banjir adalah Emerald, yang berpenduduk 15.000 jiwa. Sungai Fitzroy, yang mengalir melalui kota itu, meluap dan diramalkan akan mencapai puncaknya pada ketinggian 16,3 meter, Jumat siang ini, dan menenggelamkan lebih dari 80 persen wilayah kota. Di stasiun pengamatan Biro Meteorologi Australia (www.bom.gov.au) di kawasan Riverslea, ketinggian air Fitzroy bahkan sudah mencapai 23,53 meter di atas jembatan di lokasi tersebut.

Jeff Perkins, peneliti di Biro Meteorologi Australia, memperkirakan, aliran air Fitzroy akan menyebabkan banjir terburuk dalam 50 tahun terakhir di kota Rockhampton, yang terletak di bagian hilir dekat pantai. ”Banjir akan sangat besar di sana minggu depan, dengan ketinggian air bisa mencapai 9,4 meter, sama dengan banjir tahun 1954,” tutur Perkins.

Baru pertama kali terjadi

Perdana Menteri Negara Bagian Queensland Anna Bligh mengatakan, bencana banjir saat ini belum pernah terjadi dalam sejarah. ”Skala (bencana) dan jumlah orang yang terdampak belum pernah sebesar ini sebelumnya. Banjir terjadi di banyak tempat secara bersamaan,” tutur Bligh, yang sudah mengucurkan dana tanggap darurat bencana sebesar 1 juta dollar Australia (Rp 9,1 miliar).

Bligh juga mengatakan, banjir kemungkinan belum akan surut hingga 10 hari mendatang, dan operasi pemulihan dan pembersihan bisa butuh waktu berminggu-minggu setelah itu. ”Saat air surut, baru kita akan tahu seberapa besar masalah dan kerugian yang kita hadapi,” tutur Bligh, yang memperkirakan kerugian mencapai miliaran dollar Australia.

Pertambangan-pertambangan raksasa dunia, seperti Rio Tinto, BHP Billiton, dan Anglo American, mengumumkan keadaan darurat dan produksi pertambangan batu bara mereka di wilayah Queensland terganggu banjir. Lahan perkebunan tebu dan kapas yang sangat luas juga tenggelam oleh banjir.


Maureen Clancy, pejabat Wali Kota Banana Shire, mengingatkan bahaya penyakit dari air yang terkontaminasi bangkai binatang dan nyamuk yang berkembang biak pesat di genangan air.

Tony Ham, Manajer Program Pengendalian Hiu Queensland, memperingatkan bahaya hanyutnya hiu-hiu lembu (Carcharhinus leucas) dan buaya liar yang ganas, dari habitat mereka di sungai-sungai besar, ke kolam-kolam renang dan resor-resor selancar.

Banjir besar di Australia ini disebabkan oleh badai tropis Tasha yang terjadi pekan lalu. Badai tersebut menyebabkan hujan deras sepekan terakhir, dengan curah hujan mencapai 1,3 meter.(sumber: KOMPAS/AFP/AP/CNN/BBC/DHF)